Mencicipi Iga Dinosaurus, Daging Empuk dengan Porsi Jumbo

Dinosaurus, mendengar namanya saja pasti sudah terbayang ukuran hewan yang jumbo. Konsep inilah yang kemudian diadaptasi ke dalam satu sajian kuliner yang diberi nama iga dinosaurus. Begitu melihat penampakan pertama, sederet iga berukuran jumbo disajikan dalam platting kayu.

Iga dinosaurus itu disajikan dalam dua varian yakni sambal matah dan barbeque. Untuk memasaknya sendiri, digunakan bumbu tradisional Bali. Sehingga sambal matah dan barbeque dijadikan pelengkap bagi iganya sendiri. Menu yang cukup digemari ialah iga dinosaurus sambal matah.

“Bumbu Bali kita pilih karena akan mengangkat rasa full rempah. Masakan Bali kan banyak rempahnya. Disandingkan dengan sambal matah karena ada bumbu halusnya kecombrang itu. Jadi ketika makan sudah dapat juicy dari dagingnya itu sendiri dan dapat rasa juga dari kecombrang,” ujar Abdi Triyanto Manager Coday Skylight Resto, Jumat (17/1/2020).

“Kalau barbeque, kita metode masaknya tetap pakai bumbu bali cuma sauting-nya pakai berbeque,” imbuhnya.

Saat akan menyantap iga, biasanya orang akan berpikir iga akan sedikit alot. Rupanya tidak dengan iga dinosaurus ini, dagingnya sama sekali tidak alot dan mudah dipotong padahal ukurannya jumbo.

Abdi punya rahasia khusus yakni pada pemilihan daging juga metode memasak. Pria yang sudah berkecimpung di bisnis kuliner sejak 2011 mengatakan bahwa daging sapi yang dipilihnya merupakan sapi impor yang memang dimasak dengan bumbu khas Indonesia.

Pemilihan sapi rupanya menjadi alasan mengapa ukuran iga jumbo namum daging tetap empuk. Ia sendiri menggunakan daging sapi New Zealand yang tentunya teksurnya berbeda dengan sapi jumbo lainnya.

“Perbedaannya sebenarnya perawatan sih. Kalau sapi Jawa kan dari makanannya saja sudah beda. Kalau perawatannya juga berbeda jadi untuk hasilnya untuk daging sudah pasti berbeda. Lemak dan daging itu harus seimbang,” pungkas Abdi.

Proporsi lemak dan daging itulah yang mempengaruhi rasa serta tekstur daging sapi. Ia menuturkan jika lemak dan daging pada sapi New Zealand seimbang sehingga iga tidak alot dan punya cita rasa yang juicy.

“Lemak dan daging (sapi New Zealand) seimbang. Jadi nggak alot. Nah juicynya itu didapat dari lemak,” imbuhnya.

Karena kadar seimbang itu pula, durasi memasak iga juga tak membutuhkan waktu lama. Perlu 2 jam perebusan, iga sudah menjadi empuk.

“Ini beda dengan sapi lainnya. Sapi Jawa misalnya. Kalau sapi Jawa sendiri kebanyakan serat. Maka jadi keras kalau dimasak enggak lama. Makanya kita pilih yang jenis ini (New Zealand)” ungkapnya.

You May Also Like

About the Author: Syella

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *